Maka Merupakahan Hak Allah Meridhainya di Hari Kiamat


I made this widget at MyFlashFetish.com.

Rabu, Februari 23, 2011

Mom to be, iam



Secara naluri sifat perempuan di diri saya tumbuh dengan menatap keseharian mama di rumah. Stereotipe itu muncul di kala yang Lelaki sibuk dengan mencari uang dan Perempuan menyiapkan makan dan merapikan baju. Praktis pekerjaan perempuan pun mulai saya embani, tidak berat dan bukan suatu kewajiban melainkan kebutuhan. Sangat menyengangkan. Anugrah perempuan dari Allah adalah yang terindah di hidup saya. Perempuan adalah sosok yang memang ada di garis kedua setelah lelaki, karena lelaki adalah imam, lelaki penunjuk jalan dan sosok perempuan adalah sosok pelengkap dari segala kekurangan sifat lelaki.
Perempuan, akan seperti apa jika kelak dewasa? Itu adalah pertanyaan yang mendasar, di mana jawaban mutlaknya adalah “ibu rumah tangga” tak seorangpun perempuan yang dapat menolak peran tersebut di dalam hidupnya setelah ia mendapat status perkawinan. Ya, saya setuju “Ibu rumah tangga” dengan atau tanpa pekerjaan lainnya di luar rumah sebagai manager, CEO atau apapun itu. Perempuan menjadi Ibu rumah tangga bukan sutu pilihan melainkan kodrat yang ditentukan sang Khalik, aku akan bangga terhadap diriku kala aku bercermin dengan menyandang status ibu rumah tangga, walaupun keadaan sosial kini “akan semakin trend jika Perempuan seorang pegawai atau pengusaha”. Pekerjaan terberat adalah menjadi Ibu, bagaimana tidak Ibu akan mengurusi segala macam urusan kerumah tanggaan pada saat bangun tidur hingga tidur kembali. Ibu adalah penanggung jawab utama anak-anaknya, putra putri yang diahirkan dengan memiliki beragam latar belakang pemikiran. Ibu harus kreatif memuaskan hasrat makan keluarganya, ibu harus membuat rumah senyaman taman syurga agar keluarga betah di rumah. Tujuan pernikahan, adalah menghasilkan keturunan yang sholeh sholehah, yang lebih hebat dan berkilau seperti emas dibanding orang tuanya. Oleh sebab itu, tugas Ibu sebagai makhluk tuhan yang lembut adalah membangun nilai emosional, spritiual buah hati agar mereka bisa menjadi pribadi bisa bertahan di zamannya.
Dan, jika suatu saat saya dihantarkan untuk melakoni peran tersebut dengan besar hati akan saya lakukan, karena peran tersebut adalah peran yang besar perjuangannya dan pengorbanannya. Oh ya, jangan lupakan juga peran besar si Ayah yang banting tulang melawan kemiskinan. 

Tidak ada komentar: