Maka Merupakahan Hak Allah Meridhainya di Hari Kiamat


I made this widget at MyFlashFetish.com.

Senin, November 29, 2010

Mie membunuh Mu !!!!!

“Tulisan ini didasari karena perasaanku yang pada saat itu sangatlah tidak menentu. Aku bingung kepada siapa aku harus berbicara dan meredam segala macam emosi..”


Kekecewaanku
S
emua penyakit menyedihkan, merugikan si penderita dan orang-orang di sekitarnya. Pengalaman ini bermula pada saat aku masih duduk di bangku  kuliah semester dua, pada saat itu Papa yang baru saja menyelesaikan masa dinasnya dari Surabaya selama dua tahun memperlihatkan tanda-tanda yang tidak biasa. Mulai lah bermunculan obat-obat yang berlabel Cina di rumah dengan indikasinya menghancurkan batu ginjal. “Oh sakit pinggang” pikirku pendek, namun ternyata obat-obat warung yang sembarang dibeli itu tidak menyelesaikan masalah, justru ia malah membuka perkara baru. Dan pada akhirnya, dibawalah sang Papa ke RSUD. Walau jarak dekat dengan rumah, tetap saja stress yang aku alami sebagai anak tetua berat dirasakan. Dan setelah didiagnosa oleh dokter, keputusannya adalah harus menjalani rawat inap disertai dengan operasi, lebih tepatnya lagi penembakan batu ginjal yang bersemayam di ginjal Papa.
Keadaan rumah memang baik-baik saja, namun bathiniah tak lah menentu. “Kami Butuh Hiburan bukan Tekanan”
Proses tersebut tentu memakan waktu yang tak sedikit, dan membuat peranku di rumah menjadi berlipat ganda, praktis hal tersebut membuat aku stress. Bagaimana tidak, pikiranku bercabang, entah kemana, padahal aku harus terus berkonsentrasi dengan perkuliahan, Pra-Selama-Pasca Papa dan Mama di rumah sakit, keadaan rumah memang baik-baik saja, namun bathiniah tak lah menentu. “Kami Butuh Hiburan bukan Tekanan” dan waktupun menjawab, Papa diijinkan pulang dengan keadaaan tubuh yang luyu, seketika kami sadar kesehatan. Namun, hal itu sebenarnya biasa bagiku karena aku sendiri memang sudah menanamkan belajar hidup sehat “walaupun tak sesehat artikel-artikel yang aku baca di majalah” akhirnya aku kembali berkuliah dengan hasil IP yang turun drastis, “tak apa lah masih banyak watu untuk aku bisa menanjak ke angka yang drastis”.
Aku punya komitmen yang sangat kuat sekali dalam pencarian lelaki, boleh saja perempuan lain mencari lelaki yang kaya harta, tampan selayaknya pemain Korea favorit mereka, namun aku cukup mencari lelaki yang tidak Merokok. Dengan tidak merokok mereka terlihat jantan karena bisa menghargai diri sendiri dan orang lain. Di benakku, mereka yang tak merokok sangat mengagungkan apa arti kesehatan untuk jangka pendek dan jangka panjang mereka dan juga pasangannya. Alhamdulillah, aku mendapatkan Resa yang tidak merokok, apapun alasan dia karena tidak merokok sangat aku hargai sekali. Sejalan dengan hubungan kami, aku banyak bertanya bahkan selalu bertanya sedatail-deatailnya apa yang ia lakukan. Makan apa aja dia hari ini, pake baju apa, baca majalah apa, nonton program apa, hampir semua aktivitas aku dapatkan jawabannya.
Resa hanya mengumpat dengan pernyataan yang bodoh “tu buktinya setiap bencana selalu dikirimkan mie”
Sampai pada akhirnya, aku selalu mendapatkan jawaban yang selalu sama dari hari ke harinya, yaitu apa yang ia makan di pagi hari. Awalnya aku acuh dengan jawaban monotonnya, karena aku pikir pasti ini hanya temporer atau selingan, tapi keadaan tidak menjawab harapanku. Sampai pada akhirnya, aku agak gerang mendapati jawabannya yang selalu Makan Mie tiap pagi. Aku berusaha untuk bisa memberikan khotbah mengenai efek makan mie, tapi selalu saja tak disambut dengan aksinya. Ada ajah alasannya, “mama tuh g tau”, mama dan mama yang menjadi alasan TERBESAR DIA. Persepsiku, mamanya tidak pernah mengetahui apa dampak negatif jangka pendek dan panjang dari memakan mie, aku tau Resa anak lelaki yang manut tapi bo ya bisa proaktif gitu loh. Orang tua bukan untuk ditentang, tapi untuk dibenarkan, apa tugas dari seorang anak kepada orang tua selain menghormatinya, memberitahunya jika salah. Untuk apa orang tua memiliki anak sebagai keturunannya, jika tidak bisa hadir lebih baik daripada mereka sebagai orang tuanya. sepanjang apapun penjelasanku, Resa hanya mengumpat dengan pernyataan yang bodoh “tu buktinya setiap bencana selalu dikirimkan mie” dengan nada selorohnya yang membuat aku semakin dongkol menghadapi lelaki yang sepertinya belum dewasa itu. “Terang, mereka dikirimi Mie sebagai bahan pangan di tengah musibah, karena Mie diproses secara instan untuk mengganjal perut-perut lapar korban bencana, tidak untuk setiap hari dan selamanya tapi hanya sementara, sedangkan kamu untuk menanggulangi perut yang mau beraktivitas setiap pagi, belum juga mie yang hari Selala diurai dan disetorkan ke jamban, Mie si Rabu datang dan Mie yang di hari Kamis sudah siap menimbun perut besarmu” penjelasanku ini secara spontanitas datang menyembur ke telinganya namun NIHIL, ZERO, GAGAL. Aku Payah!!
Sudahlah, pasrahkan saja kepada Allah yang Maha Segala-galanya, Tuhan pasti mengirimkan suatu keadaan yang tak pernah kami semua inginkan, karena itu adalah sebuah hasil dari apa yang Resa lakukan hari kemarin dan hari ini. Ntah kapan, tapi yang pasti aku tak mau dibuat panik dengan keadaan itu disaat aku tengan mengurusi anak-anak ku kelak. Namun, tak bisa kupungkiri aku mengarapkan zat-zat pengawet dari Mie jangan bersemayam di pencernaannya, aku mengharap ia selalu sehat J tapi setengah hatiku berkata lain, suatu saat ia akan jatuh karena Mie.
***
Hari terus berjalan, Sabtu Minggu menjadi hari besar untuk kami berdua setelah lima hari berkutat dengan pekerjaan. Pada hari itu Resa memintaku untuk menemaninya Test di Krakatau Steel padahal paginya ia sudah merasa tidak enak badan. Karena test akan berlangsung panjang hingga sore hari, aku memutuskan pulang, dan ternyata Resa izin untuk tidak mengikuti test selanjutnya dikarenakan tak tahan dengan sakit yang dirasakan.
seketika Resa mirip sekali dengan orang dusun yang menyatakan ke dokter belum tentu cepat baik.
Hari pertama Minggu 21112010, yang aku tau Resa hanya sakit pusing dan panas dan setiap ia sakit ringan seperti itu aku orang yang selalu khawatir bukan apa-apa, aku TIDAK setuju ia mengkonsumsi obat-obat warung, walaupun ia membeli di minimart dan apotik sekaligus. Aku sangat tidak setuju dikarenakan, obat yang ia makan adalah obat tablet yang efek terdahsyatnya adalah nyeri pada uluhati. Ini dikarenakan zat-zat pada obat tersebut dapat merusak organ hati, yang tugasnya sebagai penyaringan di dalam tubuh. Tapi, pernyataanku yang mana yang Resa terima dan turuti, toh sampai mulutku berbuih ia tetap akan meminum obat itu. “Astagfirullah, sulit sekali ya memberitahunya, lelah aku”
Hari kedua, aku terima dari SMSnya, panas, pusing dan mual dan hanya obat-obat itu saja yang diharapkan dapat menyembuhkannya. Apa yang aku bisa lakukan, hanya memberi saran untuk memakan soup panas dan teh manis hangat, karena kudapan itu bisa membuatku lebih baik di kala sakit. Pada saat aku tanyakan ke Resa makan apa dia jawab “Makan mie panas setengah” aku hanya bisa mengusap dada, terlalu lemahkah dia hingga tidak bisa meminta makanan lain?” namun disitu aku hanya diam saja, ia menambahkan kata panas untuk dapat membantu merealisasikan saranku, aku bertrimakasih untuk itu, ya lagi-lagi aku ucapkan “dia anak lelaki penurut” untuk menghibur diri.
Hari ketiga, keadaan semakin parah. Mual dan Muntah. “kenapa g ke dokter sih?” lagi-lagi aku mengirimkan sms yang hanya sekedar anjuran. “ayo donk ke dokter, biar kamu tau sakit apa, biar dokter bisa diagnosa penyakit di tubuhmu, jadi kan g salah obat” ternyata amarah murka yang ia rasakan di saat aku terus menyuruhnya ke dokter “kamu tuh bikin aku semakin sakit, orang sakit butuh istirahat yang cukup, jangan ganggu. Nyuruh ke dokter mulu, ke dokter belum tentu cepet baik” ya ya ya ya, orang sakit memang butuh beristirahat dan orang sakit itu cenderung tidak dapat berpikir rasional, seketika Resa mirip sekali dengan orang dusun yang menyatakan ke dokter belum tentu cepat baik. Aku cukup sakit hati, karena saranku tidak ia hargai. Ia hanya ingin terus berbaring dan terus mengkonsusmsi obat warung. Opss Lupa dikesekian smsnya dia menuturkan alasan lain “ke dokter tergantung mama” terbukti pacarku Resa ini anak lelaki yang sangat penurut. Padahal dia pasti bisa ngotot ke dokter, karena keadaan dirinya yang semakin sakit hanya dia yang tahu, orang lain sekalipun Ibu yang melahirkan tidak bisa merasakan sakit itu. “tempatkan sifat penurutmu pada tempatnya”.
Hari keempat, jam empat subuh Resa mengirim dua sms yang intinya aku tidak pengertian, mengganggu dsb. Ok aku g perlu membanjiri ia dengan sms penuh bual layaknya sampah. Eeeeeee, jam 10an ada SMS yang mengabarkan kalo doi abis dari Puskesmas (seketika otak berpikir cepat, duh sepertinya pemerintah tidak menetapkan berdirinya Fasilitas Rumah Sakit yang merata ya di daerah Jakarta Barat, one day gw akan check hal ini di internet) Nah, kata Resa dokter di Puskesmas bilang tensi darahnya rendah hanya 85 ajah dan itu dikarenakan banyak pikiran. Aku menanggapinya agak santai dan sedikit curiga. Aku yakin, ada hal lain dari diagnosa si Dokter Puskesmas. (Dokternya g tau atau Resa yang sembunyiini) Nah agak siangan Resa sms “ada hal lain yang sebenernya lebih parah, tapi aku g mau kamu marahin, kamu bilangin karena aku uda tau. Kata dokter ada luka di lambungku gara-gara makan Mie” “INNALILLAHI” jawabku singkat dan padat.
Sedih, kecewa, nyesel, itu-itu aja yang aku rasakan sampai beberapa hari ini setelah dikabari berita itu.
apa yang kita tanam, itu yang kita tuai” dan sekarang Resa mendapatkan hasil dari usaha dan pengorbanannya memakan mie selama ia hidup. G muluk-muluk, pikiranku jauh membentang, “apa ia akan hidup sehat, kalo nanti berumah tangga apa gw bakal kerepotan urus penyakitnya, apa semua organ tubuhnya juga sedang dalam keadaan yang waspada”, beruntun pertanyaan itu ada di otak. Sedih, kecewa, nyesel, itu-itu aja yang aku rasakan sampai beberapa hari ini setelah dikabari berita itu. Sulit untuk aku bisa menghibur diri dan menghibur Resa yang masih terkulai lemas dengan obat-obatan yang katanya sesuai dengan penyakitnya (so, obat kemaren g sesuai kan?????)
Banyak nasihat-nasihat yang sebenarnya tanpa lelah aku beritahu dan mengingatnya, tapi lambat dan cenderung berjalan di tempat tanpa aksi. Andai ia bukan siapa-siapa, tak akan menjadi sebuah kesedihan dan kekecewaanku seperti sekarang ini. Aku selalu mendoakamu sayang, setiap aku melihat wajahmu di kamar aku sebetulnya kasihan sekaligus benci “tak mengapa semoga sakitmu ini membuat dosamu bersih, Insya Allah
Aku berharap setelah ini, kita bersama selalu bisa mengingatkan dan berusaha menjadi lebih baik. Jangan terus membodohi diri sendiri, jangan mau lagi menjemput penyakit yang pada akhirnya merugikan banyak pihak. Yang terpenting dengar dan lakukan yang terbaik untuk diri sendiri, jadilah orang yang berani, proaktif. Kita sudah dewasa, lakukan yang baik dan jauhi yang buruk. Semoga bisa membuka lembaran hidup yang lebih baik, sehat dan menjadi orang yang cerdas dalam menentukan sikap.
“aku mohon kepada Allah yang Maha Mulia pemilik Arasy Yang Agung, agar Dia menyembuhkan-mu”dibaca tuiuh kali                                                                                                                                               
                                                                                                Salam, Mira Ismina        
                                                                                                

Sabtu, November 06, 2010

Mama & Papa

 Andai aku t'lah dewasa
Apa yang 'kan kukatakan
Untukmu idolaku tersayang
Ayah... Oh...


pahlawan kehidupan
Andai usiaku berubah
Kubalas cintamu bunda
Pelitaku, penerang jiwaku
Dalam setiap waktu


Oh... Kutahu kau berharap dalam doamu
Kutahu kau berjaga dalam langkahku
Kutahu s'lalu cinta dalam senyummu
Oh Tuhan, Kau kupinta bahagiakan mereka sepertiku


Andai aku t'lah dewasa
Ingin aku persembahkan
Semurni cintamu, setulus kasih sayangmu
Kau s'lalu kucinta


Andai usiaku berubah
Kubalas cintamu bunda
Pelitaku, penerang jiwaku
Dalam setiap waktu


Oh... Kutahu kau berharap dalam doamu
Kutahu kau berjaga dalam langkahku
Kutahu s'lalu cinta dalam senyummu
Oh Tuhan, Kau kupinta bahagiakan mereka sepertiku


Andai aku t'lah dewasa
Ingin aku persembahkan
Semurni cintamu, setulus kasih sayangmu
Kau s'lalu kucinta

Selasa, November 02, 2010

Puisi Untuk Ayank


Di sela-sela waktu saat bekerja di Pegadaian, aku buat puisi untuk Ayank. Udah lama sekali kita gak bertemu, kaya apa ya Ayank sekarang ??
Selama aku ditempatkan di UPC Kincan, aku punya banyak waktu senggang untuk coret-coret, belajar soal-soal CPNS, dll. Nah siang tadi kebetulan inspirasi menyapa, dan mulailah menulis PUISI untuk Ayank. G seberapa bagus sih, hanya ini murni dari lubuk hatiku yang paling dalam

"Seberapa banyak tumpukan kerinduan yang menggunung, ayat-ayat cinta lama tak kau dendangkan, gemuruh di dada tak kuasa aku bendung lagi, andai waktu dapat berhenti sejenak aku ingin menikmati wajahmu yang rupawan dan pesonamu yang memabukkan. Dahagaku mengering laksana padang rumput yang gersang, di mana Jantung Hatiku, sedang apa Ia.. Mendekatlah kemari, akan kusandarkan tubuhku di sampingmu dan akan kusandarkan pula hidupku bagimu"

Kalo dipahami dengan seksama nilai puisi ini g terlalu bagus, sebagian terinspirasi dari bencana alam yang menimpa Jogja dan sebagian ya dari  kemampuan otak kanan dan kiri yang seimbang ;)
Tapi yang pasti ini semua, dibuat untuk meramaikan Blog Tercinta dan menghibur si Ayank yang jauh di sana

TAKDIR

dihempas gelombang dilemparkan angin

sekisah kubersedih kubahagia
di indah dunia yang berakhir sunyi
langkah kaki di dalam rencananya

semua berjalan dalam kehendaknya

nafas hidung cinta dan segalanya

dan tertakdir menjalani segala kehendakmu ya robbi

ku berserah ku berpasrah hanya padamu ya robbi
dan tertakdir menjalani segala kehendakmu ya robbi
ku berserah ku berpasrah hanya padamu ya robbi

bila mungkin ada luka coba tersenyumlah

bila mungkin tawa coba bersabarlah
karena air mata tak abadi
akan hilang dan berganti ( hilang kan berganti )

bila mungkin hidup hampa dirasa

mungkinkan hati rindukan dia
karena hanya dengannya hati tenang
damai jiwa dan raga

dan tertakdir menjalani segala kehendakmu ya robbi

ku berserah ku berpasrah hanya padamu ya robbi
dan tertakdir menjalani segala kehendakmu ya robbi
ku berserah ku berpasrah hanya padamu ya robbi
hanya padamu ya robbi