Maka Merupakahan Hak Allah Meridhainya di Hari Kiamat


I made this widget at MyFlashFetish.com.

Jumat, Juni 17, 2011

Mie “Aku Benci Sampai Mati”



"Emosi kembali membuncah, bukan aku tak cinta justru aku kepalang mencintaimu. Maafkan, aku terlalu bringas dalam menyampaikan kata-kata. Aku tak mau ada yang sakit hati, merasa tersinggung atau bahkan dimaki. Aku hanya ingin menyampaikan kegondokan hati yang tertimbun tanpa bukti yang tak pasti"
ccccccc

Kejujuran yang perlu dipahami karena alasan Mencintai
Makanan murah yang bikin aku suka marah. Sampai pernah datang penyakit parah yang bikin hatiku bernanah tapi dia tidak ada daya upaya untuk berubah, tetap saja mie masih ada di rumah padahal itu sampah. Siapa yang salah? Mie memang membawa musibah, bikin penyakit bertambah, membawa kehidupan yang gundah ke dalam banyak masalah.

Menyayanginya yang membuat aku begini, tak ada alasan lain untuk dia harus meninggalkan mie atau aku yang pergi? Jika dia terus menjadi teman sejati mie, lebih baik aku minta kepada Tuhan agar kita berhenti saling menyayangi. Silahkan kamu konsumsi tanpa henti, nikmatnya akan kamu tuai tua nanti, rasanya pasti seperti hidup yang terhenti. Aku hanya mencintainya tanpa Mie, harap pahami dan turuti.

ddddddddddd

Setiap hari mie, dengan berbagai variasi. Tiap pagi mie seporsi, kenapa gak pilih roti atau sesuap madu yang lebih bernutrisi? Begitu benci aku dengan mie, pelan-pelan merusak hidup calon suami. Mami, coba kau pikirkan kenapa mie selalu kau beri kepada anakmu setiap pagi? Apa mungkin pagi-pagi adalah waktu yang sempit untukmu berkreasi? Kasihan anak sulungmu, jangan jadikan mie untuk menghancurkan prestasi.



Makan mie tak ada manfaat yang mumpuni. Di pencernaan sana, tak ada gizi yang didapati. Lambung jengah dan usus berontak teriak, inginnya mereka pensiun dini karena berjumpa dengan mie setiap hari. Sedangkan iklan mie terus dipuji  yang sebetulnya hanya pantas dimaki. Bagaimana ini? Tak ada solusikah untuk meminimalisir perih hati. Anjuran puasa tak pernah diikuti, ajakan detoksifikasi tak jua diminati. Hanya aku yang peduli, walau tanpa aksi karena belum diperistri.

Mami, perlukah aku mengundang Rommi Rafael untuk menghipnotis? Menghilangkan mie dari kehidupanmu secara drastis dan aku yakin hidup kalian akan lebih romantis karena bisa sarapan roti diselipi cheese atau sesuap madu yang manis agar masa depan anakmu terbingkai tanpa senyum yang meringis.

Masak mie memang praktis, tapi mendatangkan penyakit kronis, bukan aku pesimis namun jika aku diperistri aku takut dipertemukan dengan hal yang kritis, sungguh miris! Berapa kali aku harus membahas mie, tapi tak pernah digubris. Sungguh Tragis

Penjelasan :
© Calon suami ya aku anggap Resa calon suamiku, karena saat ini sosoknya yang bertahta jelas di relung hati. Maka dari itu aku harus hati-hati jika ia terus makan mie, takut cepat mati. Aku g mau berumah tangga sendiri. Jadi tolong Tuhan bantu ia untuk dapat merangkai masa depannya sendiri, sebelum menikahiku.

© Mami : panggilan kita berdua antara aku dan Resa (karena panggilan nyata masih “tante” . Maminya lah yang selalu membuatkan sarapan pagi, sampai aku hapal betul presentasi kehadiran menu sarapan mereka dalam seminggu. Senin sampai Jumat makan mie diselingi hari-hari lain dengan Nasi Uduk dari kampung sebelah atau Reng Goreng Goreng nasi Goreng. Tapi tetap, kehadiran mie sangat mendominasi meja makan keluarga mereka. Sungguh, jika aku diberi kesempatan bicara aku akan menyuarakan kepada beliau. Namun sayangnya, peranku di keluarga mereka tidak lain hanyalah sesosok perempuan biasa yang belum memiliki posisi penting. "Kalo ibunya tau gw segini kencengnya, ikut campur ke masalah domestik mereka gimana ya? g direstui kali ya??" sereeeeeeeeeeem..

© Diperistri : nah, masih ada sangkut pautnya dengan penjelasan di atas. Aku belumlah menjadi istri Resa, maka aku belum pula bisa terjun ke lapangan untuk dapat membuat sarapan yang membuat hidupnya sehat. Sampai kapan ia akan memakan mie, ya sampai ia mengakhiri masa lajang. Pertanyaannya adalah, kapan kita bisa menikah? Aku akan rubah hidupmu, kita buang jauh-jauh mie. Ya aku setuju jika kamu membuag mie itu di kali dekat rumah.  

Tidak ada komentar: